Hadits Dhaif Seputar Ramadhan

“Wahai manusia, sungguh bulan yang agung telah (menaungi) kalian, bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, Allah menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara wajib pada bulan yang lain…. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka…” sampai selesai.

Hadits ini juga panjang, kami cukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887) dan Al Muhamili di dalam Amalinya (293) dan Al Ashbahani dalam At Targhib (q/178, tulisan tangan) dari jalan Ali bin Zaid Jad’an dari Sa’id bin Al Musayyib dari Salman.

Hadits ini sanadnya dhaif, karena lemahnya Ali bin Zaid, berkata Ibnu Sa’ad, “Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya,” berkata Imam Ahmad bin Hanbal, “Tidak kuat,” berkata Ibnu Ma’in, “Dhaif” berkata Ibnu Abi khaitsamah, “Lemah di segala penjuru,” dan, berkata Ibnu Khuzaimah, “Jangan berhujjah dengan hadits ini, karena jelek hafalannya.”

Demikianlah di dalam Tahdizbut Tahdzib (7/322-323). Dan Ibnu Khuzaimah berkata setelah meriwayatkan hadits ini, “Jika benar kabarnya.” Berkata Ibnu Hajar di dalam Al Athraf, “Sumbernya pada Ali bin Zaid bin Jad’an, dan dia lemah,” sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Imam As Suyuthi di dalam Jam’ul Jawami’ (no. 23714-tertib urutannya).
Sumber : http://akhdian.net/2009/08/24/hadits-hadits-dhaif-yang-tersebar-seputar-bulan-ramadhan/

Well, jika mas Akhdian menjabarkan lemahnya hadits tersebut dari periwayatnya maka saya akan membahasnya dari segi akal. Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka…” dapat diartikan 10 malam pertama adalah rahmat, sepuluh malam kedua adalah ampunan dan sepuluh malam terakhir adalah pembebasan dari api neraka. Hal ini menurut saya tidak sesuai dengan sifat Allah yang maha pemurah, mengapa? Sebab Allah hanya memberikan rahmat pada 10 malam pertama, ampunan pada 10 malam kedua dan pembebasan api neraka pada malam ketiga.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, rakmat, ampunan. Artinya Allah memberikan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka di seluruh Ramadhan, bukan hanya pada 10 malam pertama, kedua dan ketiga seperti yang banyak kita dengar dari para penceramah.

images Coba anda bayangkan, bagaimana halnya dengan orang yang berhalangan puasa pada sebagian Ramadhan (wanita yang sedang haid, atau orang yang dalam perjalanan jauh). Katakanlah mereka tidak bisa menjalankan puasa pada 10 hari kedua lantas apakah mereka tidak mendapatkan ampunan dari Allah? Demikianlah, semoga menjadi renungan untuk kita bersama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s