Bukannya Sabar Malah…

Minimal lima hari dalam seminggu saya harus berjuang menghadapi jalan raya Jakarta yang terkenal padat untuk kerja dan lain-lain. Wagh lebaynya kumat negh, tapi tidak berlebihan kiranya saya sebut jalan raya Jakarta lebih terkenal dari pada detektif Kogoro Mori yang terkenal itu he he he sebab ya memang begitu adanya.

Untuk berkendara di Jakarta bukan hanya diperlukan keahlian berkendara tetapi juga kesabaran. Koq bisa? Ya bisa, sebab yang menggunakan jalan itu macam-macam rupanya tapi secara umum saya kelompokkan menjadi dua tiga kelompok. Waduh koq jadi ngikutin Jarjit negh.

Kelompok pertama adalah orang tolol, maaf bukan saya sok pintar tapi ya begitulah menurut saya. Mengapa saya bilang mereka tolol sebab sepertinya mereka tidak mengetahui peraturan lalu lintas. Ehm sebenarnya saya juga tidak terlalu paham peraturan lalu lintas tapi sebagai manusia dan warga Negara yang baik saya tahu bagaimana bersikap yang benar di jalan. Beberapa tindakan yang saya anggap tolol adalah :

1. Melaju dengan kecepatan rendah di sebelah kanan yang nota bene lajur cepat atau untuk mendahului. Entah seperti apa perasaan anda tapi bagi saya itu suatu hal yang menyebalkan terlebih ketika diklakson bukannya menyingkir dan memberi jalan mereka hanya menoleh dan melanjutkan tindakannya. Hm mungkin yang ada dipikiran mereka adalah “suara apa tuh? Geledek, pistol oh ternyata klakson, sabar mas ini jalan bersama jadi ya ngantri” waks ampun-ampun deh.
2. Melawan arus, ketika sedang asik-asik melaju tiba-tiba dari arah depan ada kendaraan lain melaju dengan arah berlawanan tapi posisinya oq di kiri? Aduh ni orang ngak sayang nyawa ya? Ampun biyung.
3. wagh ternyata jika diuraikan satu per satu banyak juga yah, ya udah segitu aja intinya orang yang tidak tahu aturan saya sebut tolol.

Kelompok yang kedua adalah orang-orang yang saya sebut gila. Kenapa gila sebab entah mengapa sepertinya mereka merasa dirinya adalah seorang sembalap yang sedang balapan di sirkuit. Pengendara seperti ini sering melaju dengan zig zag untuk menhindari kendaraan lain, kendaraan yang digunakan juga sudah tidak perawan alias sudah di modif yah sebut saja demikian untuk memudahkan penyebutan. Modifikasi yang umum dilakukan adalah mengganti knalpot motor dengan yang suaranya lebih keras. Mungkin maksudnya supaya kendaraan lain menyingkir waktu dengar suaranya tanpa perlu klakson. Cukup efisien menurut saya.

Selain itu masih ada pelaku-pelaku lain yang turut meramaikan kekacauan jalan raya. Yup anda benar, para supir angkutan atau bis kota sejak dulu telah menyandang sebagai jura bertahan kelas berat penyebab kekacauan jalan raya. Ada banyak yang mereka lakukan yang menyebabkan kekacauan tapi yang umum terjadi antara lain, berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang seenaknya. Kebut-kebutan di jalan, wuih kalo sudah begini ane sebagai biker nyingkir aja deh dari pada kesenggol bisa berabe.

Bagaimana dengan pejalan kaki? Podo wae alias sama saja, disaat lampu merah menyala hijau yang artinya pertanda tuk jalan atau yang oleh alay diartikan sebagai tanda betot gas kendaraan eh mereka (pejalan kaki) malah nyebrang. Ck ck ck saya jadi mikir lampu hijau itu untuk kami penggendara kendaraan atau untuk para pejalan kaki wong lampu hijau sama-sama jalan. Sudah ada jembatan penyebrangan lha koq ngak dipake? Apa mereka piker jembatan itu khusus untuk penumpang bus way, nah bus waynya belum operasional. Mana negh sang ahli Jakarta yang udah bikin proyek bus way? Jalur dan terminal sudah rampung beberapa tahun yang lalu tapi tidak berdaya guna alias nganggur akibatnya ya rusak, mudah-mudahan gak jadi sarang hantu. Hm berapa uang Negara yang terbuang? Coba kalo disumbangin ke ane kan lumayan bisa untuk modal nikah plus ganti motor, mobil mungkin.

Mungkin ini bisa dikatakan sebagai uji nyali atau juga latihan kesabaran tapi alih-alih jadi sabar saya koq malah stress. Jika berangkat pagi hari mungkin masih bisa tahan, maklum masih serba seger jadi relatif lebih tahan. Tapi ketika sore hari pulang kerja ugh rasa emang gak bisa bohong oh maaf jadi terbawa emosi. Entahlah apa yang harus dan bisa saya lakukan agar tabah menhadapi itu semua tapi saya ingat pesan “bisa karena biasa” mungkin jika biasa menghadapinya saya jadi bisa sabar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s