19 Juli 2010

Sore itu langit Jakarta tampak gelap, bukan saja karena hari menjelang malam tapi awan mendung menyelimuti Jakarta. Wah wah wah jika tidak buru-buru bisa kehujanan di jalan, maka ketika jam menunjukkan pukul lima sore langsung aja ngacir pulang bersama si Jum yang setia menanti di parkiran.

Bukan Jakarta jika tidak macet, suka tidak suka, mau tidak mau ya terima saja. Perasaan dongkol terhadap situasi jalan bercampur rasa khawatir kehujanan di jalan menghasilkan cita rasa perasaan yang aneh. Mungkin lebih aneh dari pada rasa permen Super duper atau apapun namanya, saya lupa.

Tidak terasa hujan mulai turun, meskipun tidak deras tapi beberapa jalan terlihat digenangi air. Entah apa ini masuk kategori banjir atau bukan sebab masih belum seberapa jika dibandingkan ketika musim banjir. Banjir koq biasa he he he seperti yang pernah dikatakan iklan rokok. Centi berganti meter, meter berganti kilo, jarak ke rumahpun semakin dekat. Ketika sampai di fly over kampung melayu terlihat jalan agak lenggang tak sepadat jalan Jend. A. Yani dan jalan lain yang saya lewati.

Ada kesempatan kenapa tidak diambil, maka kecepatan Jum saya tambah hingga kejadian yang tak diinginkan itu terjadi. Sebuah mobil pick up entah mengapa berhenti yang mengakibatkan motor dibelakangnya ngerem mendadak. Untuk mencegah tabrakan dengan motor tersebut saya pun melakukan hard braking, kejadian berikutnya yang saya ingat adalah saya dan Jum terjatuh dan terkapar.

Ough… sakit, saya perlu beberapa detik untuk bangun dari jatuh untungnya tidak ada kendaraan yang menabrak saya dari belakang saat terjatuh. Beberapa pengendara motor berhenti untuk membantu saya. Meskipun sakit tapi saya bilang “ngak papa, ngak papa” sebab saya tidak mau merepotkan dan membuat mereka khawatir he he. Terharu juga saya dengan sikap mereka yang mau menolong saya yang notabene bukan siapa-siapa. Bukannya apa, jika mereka mau cuek juga tidak ada yang melarang selain itu juga waktu sudah magrib. Setiap orang termasuk saya sedang buru-buru ingin cepat sampai tujuan.

Seperti biasa jika motor jatuh mesinnya tidak bisa langsung nyala disebabkan bensinnya banjir. Jalanan banjir, mesin ikut banjir halagh apa-apaan ini jadi ngomongin banjir. Meskipun saya tahu kondisi tersebut tapi tetap saja saya berusaha menyalakan motor eh membangunkan Jum yang entah pingsan atau ngambek gara-gara terjatuh tadi, huft capek deh. Sambil berusaha membangunkan (menyalakan) Jum saya berfikir apakah ini teguran untuk saya karena sering marah, tidak sabaran menghadapi kondisi lalu-lintas Jakarta.

Entahlah, apapun itu merupakan pertanda dari Allah untuk saya. Setelah saya cek pun alhamdulillah ternyata Jum dan saya tidak mengalami luka serius seperti kecelakaan yang saya alami sebelumnya. Saya dan Jum cuma lecet-lecet, barang bawaan saya berupa hp dan kamera digital pun sehat wal afiat. Sekali lagi saya berkata “Alhamdulillah”, di balik kesusahan ada kemudahan.

Tapi sampai sekarang masih ada hal yang mengganggu pikiran saya. Apa sebenarnya yang membuat saya terjatuh? Kondisi saya yang tidak siap kah, kondisi Jum yang tidak prima kah, kondisi jalan kah yang tidak rata dan licin karena banjir. Welegh-welegh dari pada pusing mikirin hal tersebut kenapa saya tidak melihat dari sudut pandang yang lebih positif? Ya sudah iklaskan saja meskipun sampai sekarang badan masih terasa lemas mungkin faktor kurang gizi alias gizi buruk he he he kumat on.

Ucapan terima kasih tak lupa saya ucapkan untuk bikers yang membantu saya. Meskipun tidak seberapa tapi itu sangat berarti oh oh oh terharu mode on. Semoga Allah membalas dengan balasan yang berlipat ganda. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s