My 2nd Bike : BM / HSX 125

Menjelang akhir tahun 2005 terdengan kabar dari berbagai media bahwa tahun depan (2006) gaji PNS, TNI dan POLRI akan naik. Hal ini tentu saja sebuah kabar baik untuk PNS termasuk saya, hal ini pula yang mengilhami saya untuk memiliki sebuah sepeda motor pribadi bukan pinjam pakai motor dinas. Setelah menimbang-nimbang dan berdiskusi dengan teman keinginan memiliki motor pribadipun semakin kuat. Meskipun penempatan tugas saya di Bengkulu tapi saya merasa sebagai orang Jakarta sebab di sanalah saya lahir dan dibesarkan maka saya lebih memilih membeli motor dari Jakarta dari pada Bengkulu.

Keluarga di Jakarta setuju saja ketika saya ungkapkan keinginan tersebut tapi ayah saya menyarankan ambil motornya nanti saja (tahun depan) dengan alasan tahun 2005 tinggal hitungan hari. Lain lagi pihak dealer yang menginginkan agar saya secepatnya mengambil motor, alasannya karena tahun depan harganya bisa naik dan untuk mengejar target penjualan tentu saja ha hay :mrgreen:. Ya sudah saya ambil jalan tengahnya, motor saya ambil 2005 tapi urusan administrasi seperti STNK dan lainnya 2006. Dengan lantang laksana prajurit perang pihak dealer menjawab SIAAAP!!!

Dengan uang muka sebesar Rp 3.000.000,- dan cicilan perbulan sekitar Rp 670.000,- sebanyak 23 kali sebuah sepeda motorpun bisa saya miliki. Maklum bukan orang kaya jadi belinya kredit :mrgreen:. Motor yang saya pilih adalah Honda Supra X 125 selain faktor merek Honda yang sudah teruji juga karena tampilan HSX 125 yang bagus jika dibandingkan mobek Honda yang lain, waktu itu motor ini masih baru sekitar beberapa bulan sejak di launching oleh AHM. Ada teman yang bertanya “kenapa ngak ambil MX aja?” saya jawab kurang suka tapi ternyata motor saya yang sekarang (my 4th bike) adalah MX, wah wah wah hidup memang aneh ya, yang dulunya ngak suka sekarang malah….

Motor ini saya beri nama BM, terserah mau diartikan sebagai Black Motor atau yang lain pokoknya BM. Jika dibandingkan dengan Mandragade, BM jauh lebih unggul baik dari segi tampilan, konsumsi BBM, tarikan dan lainnya. Saya juga tak malu lagi untuk menyusuri pantai Panjang yang panjang sebab tidak ada lagi suara menggelegar khas mandragade :mrgreen:. Banyak yang bilang motor ini motor ibu-ibu (lamban), ada yang tahu kenapa? Yup karena mereknya Honda, Honda gitu loh ngejar irit makanya lelet tapi waktu saya pakai akh ngak juga. Pernah saya coba kecepatannya bisa melewati angka 100 kpj, memang sih angka di speedometer sudah di mark up tapi tetap saja untuk mengalahkan motor bebek macam Fit, Smash, Vega dan mobek lain yang cc-nya lebih rendah bukan suatu yang sulit alias gampang.

Namanya motor baru maka perlakuannyapun termasuk istimewa, hampir setiap hari motor ini saya bersihkan baik dicuci atau sekedar dilap supaya tidak kotor tapi hal ini justru mecelakakan saya. Kejadiannya pagi hari sebelum berangkat kerja saya bersihkan BM, selesai mencuci saya bermaksud memundurkannya dengan cara sambil dinaiki. Nahas saya lupa menaikkan standar sampingnya, maka yang terjadi adalah kuku jempol kaki kiri saya hampir lepas terkena standar BM. Meskipun sakit saya tidak berteriak apa lagi sampai menangis tapi percayalah itu menyakitkan :(. Ketika saya bawa ke puskesmas yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah (dinas) mereka pun tak berani mengambil tindakan apa-apa hanya memberikan obat luka. Ya sudahlah terima saja, selama beberapa hari saya tak bisa menggunakan sepatu. Peristiwa ini menyadarkan saya untuk tidak mencintai sesuatu secara berlebihan, sebab apapun jika berlebihan sungguh tidak baik. Jika anda mau lihat seperti apa jempol saya waktu itu silahkan klik di sini tapi jika tidak kuat sebaiknya jangan.

Kekurangan motor ini adalah body yang getar, yah masalah ini sebenarnya bukan barang baru untuk motor keluaran AHM tapi untuk BM getarannya tidak sehebat motor lain, mungkin faktor biker juga menentukan. Tahun 2007 saya sudah tidak sering menggunakan BM karena gantian dengan ayah saya dan pada tahun itu pula saya memiliki Jupi Z Burhan my 3rd bike, tapi tetap saja saya lebih senang mengendarai BM. Memang benar apa yang pepatah bilang like father like son, yang artinya anak dan orang tua biasanya mirip. Ayahnya suka Honda maka anaknya pun suka Honda. Saat ini BM lebih sering digunakan oleh ayah saya, kadang saya masih mengendarai BM tapi sudah jarang.

Sebenarnya ada banyak kisah yang menarik bersama BM tapi rasanya tidak akan cukup jika saya ceritakan semuanya, kecuali jika saya ingin menjadikannya sebuah novel.

Iklan

5 responses to “My 2nd Bike : BM / HSX 125

  1. apel siang Ndan

  2. Ooooo sama saja yah keleihannya body getar hehehehe

  3. iya udah jadi semacam trade mark kali yah, tapi inget dulu guspur pernah komen getar itu termasuk kelebihan. hp aja kalo ngak getar ngak bagus 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s