Aku, Kamu dan Dia (1)

Jika ada persamaan cerita, nama dan sebagainya bukan atas dasar kesengajaan, harap maklum.

Sebut saja namanya Nia, seorang wanita yang baru ku kenal karena suatu ketidaksengajaan. Kami mulai dekat karena sering sms dan terkadang nelpon, awalnya kami bertukar no hp bukan untuk kenalan atau semacamnya tapi keadaan yang menyebabkan seperti itu dan aku sama sekali tidak keberatan atas kejadian itu, mungkin nasip yang mempertemukan kami.

Entah mengapa, rasanya nyaman saat bersamanya meskipun hanya membicarakan hal-hal yang tidak penting.

Usia Nia lebih dewasa 2 – 3 tahun daripada aku tapi sikapnya yang manja membuatnya terlihat seperti anak baru gede. Awalnya aku sama sekali tak suka tapi aku mulai terbiasa dengan sikapnya dan jujur saja sikapnya yang manja membuatku merasa lebih dewasa. Nia sering menghubungiku (miss call) untuk sesuatu yang tidak jelas, saat ku tanya kenapa dia jawab “ngak papa iseng aja” padahal ku kira ada hal penting yang ingin dia katakan tapi ya sudahlah, wanita memang sulit untuk dimengerti.

Suatu ketika aku menghubunginya meskipun aku tak tahu mau bicara apa tapi saat itu aku membutuhkan seseorang untuk bicara, bicara apa saja tak perlu serius yang penting bisa membuatku merasa lebih baik. Suaranya terdengar sedikit berbeda dengan saat kami bicara langsung, di telpon suaranya terdengar agak cempreng. Dia bercerita banyak hal mulai dari hal sepele sampai yang berat, saking beratnya aku tak mengerti apa yang dia ceritakan tapi aku berpura-pura mengerti dengan mengatakan ya ya ya. Kenapa jadi dia yang bercerita, bukankah aku menelponnya karena aku butuh seseorang untuk mendengarkanku. Apa boleh buat, lanjutkan saja lagi pula aku ingat lagu yang berjudul wanita ingin dimengerti.

Kami semakin dekat dan tak bisa ku pungkiri ada perasaan senang dan nyaman saat bersamanya. Entah sejak kapan rasa itu ada tapi aku tak mau gegabah mengatakan aku menyayanginya, mungkin aku suka tapi bukan cinta karena aku bukan orang yang mudah jatuh cinta. Semakin banyak tentang Nia yang ku tahu, ia bercerita bahwa ia pernah mempunyai kekasih yang ia sayang. Mereka belum lama berpisah karena terlalu sering ribut, ribut karena hal-hal yang tak perlu diributkan. Tak perlu ditanya siapa yang salah sebab mereka telah memutuskan untuk berpisah. Bukan suatu kebetulan rasanya jika kemudian kami (aku dan Nia) bertemu, apakah ini pertanda atau ada maksud lain dibalik itu semua.

Mengapa harus ribut untuk hal-hal sepele.

Mengapa Nia menceritakan itu semua padaku? Kebanyakan orang akan menceritakan hal seperti itu hanya kepada orang-orang terdekat atau orang yang benar-benar mereka percayai. Apakah Nia telah mempercayaiku, ataukah Nia merasa kami sudah cukup dekat? Nia sama sekali tidak mengenalku karena kami baru kenal dan aku jarang sekali bercerita hal-hal tentang diriku padanya, ataukah ada sesuatu pada diriku yang membuat Nia yakin padaku.

Bersambung…

6 responses to “Aku, Kamu dan Dia (1)

  1. ngelu aku ngelu
    pada semut merah
    he he he

  2. waduh,
    punya bakat menulis juga nihh bro😀

    lanjutkan,!!

  3. rencananya mau nulis novel berjudul Heri Poter anak sekolahan tapi untuk sementara nulis cerita singkat dulu:mrgreen:

  4. ceritanya,, di sambung lagi donk,,,hihihihii lumayan kak awalnya🙂 tulisannya lebih di perdalam lagi aja Mas,,🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s