Aku, Kamu dan Dia (2)

Aku hanya diam mendengarkan cerita Nia sambil sesekali menanggapi dengan hm. Aku tak berani memberikan pendapatku sebab boleh jadi ia hanya ingin didengar bukan dinasihati atau digurui. Usai bercerita panjang lebar ia bertanya, “koq diam saja, menurut kamu bagaimana?”.

Nia? oh bukan ini Jessica Alba.

Mungkin ini sebuah pertanda bahwa kami sebaiknya bersama. Bagaimana tidak sebab kami bertemu di saat Nia sedang sendiri. Kebanyakan orang mungkin akan memanfaatkan momen ini untuk berusaha lebih dekat dan sebagainya tapi aku bukan kebanyakan orang. Ku katakan padanya untuk tidak terlalu emosi dalam memutuskan segala sesuatu, meskipun keputusan berpisah telah diambil tidak ada salahnya untuk sedikit merenung.

Kukatakan pada Nia, sebaiknya kamu tidak usah menghubunginya dulu dan jangan terlalu cepat memutuskan untuk bersama laki-laki lain sebab boleh jadi itu hanya emosi sesaat. Itu bukan hanya menyakiti kamu tapi juga laki-laki itu. Aku yakin dia masih memikirkan kamu sebab sebagai laki-laki aku mengerti perasaannya, kecuali dia seorang laki-laki brengsek yang mudah melupakan sesuatu begitu saja. Mungkin saat ini dia ingin menghubungi hanya saja dia takut kamu masih marah dan keadaan akan memburuk.

Sementara kamu pikirkan baik-baik apakah berpisah darinya suatu kesalahan atau pilihan yang tepat, tapi ingat jangan terlalu cepat memutuskan sesuatu. Mungkin selama beberapa hari ke depan kamu bisa merasakan apakah kamu merasa lebih baik tanpanya atau justru sebaliknya. Jika kamu merasa kangen jangan malu untuk menghubunginya dulu, ngomong-ngomong apa kamu ngak kangen? Gantian Nia yang terdiam, entah apakah dia menyimak kata-kataku tadi atau pikirannya sedang melayang entah ke mana. Ya ya ya aku memang tak pernah mengerti jalan pikiran wanita.

Mungkin aku bodoh karena menyarankan seorang wanita (yang cukup) cantik untuk kembali kepada mantannya alih-alih berusaha mendapatkannya. Mungkin seharusnya aku mengatakan “kamu benar memilih untuk pisah, untuk apa kamu bersama dia malah akan menyakiti diri sendiri”. Setelah itu perlahan dan pasti aku mulai masuk ke dalam hidupnya menggantikan posisi si mantan, ha ha ha tapi aku bukan orang seperti itu. Sejak awal aku hanya menganggapnya sebagai teman, belum terlintas untuk menjadikannya lebih dari sekedar teman. Aku memang nyaman bersama dengannya tapi apakah benar itu cinta? Bagaimana jika itu hanya perasaan sementara yang bisa datang dan pergi begitu saja.

Bersambung…

2 responses to “Aku, Kamu dan Dia (2)

  1. Ping-balik: Aku, Kamu dan Dia (1) | Lord Ubay's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s