Aku, Kamu dan Dia (3)

Sejak saat itu aku mulai menjauhi Nia, aku tak pernah lagi membalas setiap kali Nia menghubungiku. Walau sisi lain diriku mengatakan tidak seharusnya aku meninggalkannya disaat seperti ini, sebab Nia sedang rapuh dan membutuhkan seseorang untuk melewati saat-saat seperti ini tapi aku tetap melakukannya. Aku tidak mau memperburuk hubungan Nia dengan mantannya yang memang sedang bermasalah. Aku yakin jika jodoh tidak akan ke mana, jika memang Nia jodohku maka kami akan menemukan cara untuk bersama lagi dengan cara yang tak pernah diduga seperti saat kami bertemu.

Nia perlu waktu untuk menenangkan diri dan berfikir apakah berpisah dengan kekasihnya suatu pilihan tepat, akupun perlu waktu untuk memastikan bagaimana perasaanku sebenarnya ke Nia. Entah apa yang akan terjadi kemudian, mungkin aku akan menyesali keputusanku untuk pergi dari Nia dan saat ku ingin kembali Nia telah bersama orang lain. Banyak hal-hal berkecamuk di kepalaku, kemudian semua itu buyar tatkala senyum Nia melintas. Senyum manja seperti anak kecil dengan tatapan mata yang lembut begitu lekat seakan-akan Nia berada di hadapanku.

Keputusanku menjauhi Nia telah bulat, aku siap menghadapi segala kemungkinan, baik dan buruk akan kuhadapi karena aku adalah lelaki. Sudah hampir seminggu aku tak menghubungi Nia, Nia pun berhenti menghubungiku sejak beberapa hari yang lalu. Ada rasa rindu yang datang menyerang tapi selalu kusangkal. Aku hanya memandangi hp yang tergeletak di meja sementara pikiranku melayang memikirkan Nia. Kali ini aku tak bisa menyangkal bahwa aku merindukan Nia, Nia, Nia, Nia nama itu terus melintas di pikiranku. Meskipun rindu tapi aku terlalu gengsi untuk menghubunginya, mungkin besok saja aku menghubunginya sebab sudah malam aku takut malah mengganggunya.

Malam semakin larut tapi aku belum juga bisa tidur, bagaimana aku bisa tidur jika pikiranku selalu memikirkan Nia. Aku berharap malam cepat berlalu agar aku bisa segera menghubungi Nia tapi malam tetaplah malam, aku harus bersabar menunggu pagi datang sambil berharap bisa tidur dan bertemu Nia dalam mimpi.

Hari yang ku nanti tiba tapi aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku hingga aku belum bisa menghubungi Nia. Rasa rindu ini harus ku tahan sampai semua pekerjaanku selesai. Malam hari usai mandi, makan dan solat langsung ku telpon Nia dengan penuh harap tapi yang kudapat adalah suara “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif”. Meski kecewa ku coba berfikir positif, mungkin Nia sedang capek mudah-mudahan besok aku bisa menelponnya. Esoknya aku masih mendengar suara “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif” saat menghubunginya, selalu begitu. Ada apa dengan Nia, kenapa nomornya tidak pernah aktif? Kamu di mana? Aku kangan kamu Nia, Nia… batinku menjerit memanggil namanya. Hingga kini aku sama sekali tidak tahu kabar Nia, aku berharap masih ada sedikit keberuntungan yang bisa mempertemukan kami seperti saat pertama bertemu.

Selesai.

Bonus :

8 responses to “Aku, Kamu dan Dia (3)

  1. keren bro, weZZZ kaya nya berharap banget ya sama yang namanya nia. gimana tuh cerita awal petrtemuannya ceritakan juga lah.

  2. dari awal dong gann

  3. yang 1 n 2 judulnya apa? bagus ceritanya bro.

  4. btw anak mana tuh? kaya nama adek gw.hehehe

  5. namanya sama kayak namaku NIA😀 ceritanya juga kok kebetulan sama kisahnya dengan seseorang yaaa ? hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s