Mirip Pedrosa (Another Part of Me)

Jam 6.10 pagi alarm hpku berbunyi mengajak bangun dan bersiap-siap berangkat kerja, namun karena ngantuk yang disebabkan kurang tidur akibat insomnia yang tak karuan maka kulanjutkan tidurku. Beberapa menit lagilah, kan lumayan kataku dalam hati. Beberapa menit kemudian aku terbangun gara-gara mimpi aneh dan saat kulihat jam sudah menunjukkan 6.37. Ough tidak aku terlambat 7 menit dari kebiasaanku tidur pagi di bulan Romadon.

Setiap hari dibangunin alarm hp, maklum blom ada yang bangunin :D.

Seperti yang sudah-sudah kali ini pun aku menghemat waktu dengan cara yang sama, sepertinya hal itu sudah menjadi rahasia publik. Usai cuci muka dan hendak meninggalkan kamar mandi tiba-tiba perutku bergejolak, wah wah wah di saat genting seperti ini ada saja yang menghambat tapi dari pada ditahan bisa makin runyam nantinya. Ya sudah kita lanjutkan seremoni di kamar mandi.

Dengan bermodal wajah tampan dan semprotan parfum, saya siap menjalani hari. Waktu menunjukkan sudah jam 7 kurang sedikit, kurang dari 30 menit waktu yang kuperlukan untuk menempuh perjalanan dari selatan Jakarta menuju kantor di Utara Jakarta agar selamat dari pemotongan pendapatan. Mesin motor yang belum panas dan polisi tidur yang berhamburan tak menghalangiku untuk ngebut selayaknya sembalap (seorang pembalap). Sayangnya adegan tersebut hanya berlangsung sementara karena saya harus mampir ke SPBU, maklum si Jum belum sempet sahur atau berbuka dari kemarin. Yah berkurang lagi deh waktu beberapa menit untuk antri di SPBU, meskipun resah dan gelisah ku coba untuk tetap sabar kan lagi Romadon (puasa) haiyah :mrgreen:.

Ngak terasa sudah sekian tahun kebersamaan kami.

Setelah semua hajat terpenuhi maka perjalanan menuju KPU pun berlanjut. Saya sudah tidak melihat jam lagi, pokoknya ngebut agar sampai tujuan sebelum 7.30 demi tercapainya kesejahteraan sosial keluarga saya :D. Sayangnya segala sesuatu tak selalu berjalan sesuai keinginan, bukan sakit perut ataupun isi BBM yang menghentikan lajuku namun sebuah lampu lalu lintas yang menyala merah sukses menghentikan lajuku. Perlu waktu 120 detik atau dua menit untuk menunggu warna lampu merah berubah menjadi hijau dan saat lampu menyala hijau kegilaankupun berlanjut.

Kalo dipikirpikir masih gantengan saya lho he he :lol:.

Meskipun tidak berada di garis paling depan saat lampu merah namun aku mampu melibas hampir semua pengendara lain ketika lampu menyala hijau. Bukan bermaksud sombong namun memang demikian adanya. Saat-saat seperti inilah aku benar-benar merasa mirip Pedrosa (itu lho pembalap Moto GP). Ada yang Tanya “mirip Pedrosa maksudnya pendek?”. Bukan pendek tapi kyut (cute) dan suka ngebut :mrgreen:.

Tinggal beberapa meter lagi jarak ke kantor namun jam menunjukkan sudah 7.30. Ough ough ough perasaan resah dan gelisah mulai muncul khawatir tak mampu sampai tepat waktu. Dalam dunia balap terlambat 0.01 detik bisa berakibat gagal podium dan dalam dunia kerja yang saya geluti terlambat 1 detik bisa berakibat pemotongan pendapatan. Apapun alasannya terlambat tetap terlambat, 1 detik, 1 menit atau 1 jam tetap telat, paling bedanya pada besarnya potongan yang dikenakan tapi tetap saja dipotong penghasilan itu tidak enak.

Sampai di parkiran motor langsung kutinggal dan berlari menuju mesin absen. Meskipun jam tanganku menunjukkan waktu sudah 7.32 tapi aku tetap berharap sebagaimana lirik lagu yang sering diputar di kantor “harapan itu masih ada”. ID diterima, begitu tulisan yang muncul di mesin absen dan waktu yang ditunjukkan adalah 7.29 Alhamdulillah ternyata waktu di mesin absen gedung eks kanwil tak secepat mesin di gedung induk. Senang sekali rasanya karena berhasil tidak terlambat absen, tidak sia-sia usahaku yang ngebut seperti Pedrosa bahkan mungkin lebih gila lagi.

Anda boleh setuju boleh juga tidak karena saya mengaku lebih gila dari pada Pedrosa yang pasti saya punya alasan tersendiri. Sehebat dan segila-gilanya Pedrosa yang dihadapi adalah Rossi, Simoncelli dan pembalap lainnya yang juga sama-sama mengendarai motor. Sementara saya dengan sepeda motor tipe cube / bebek harus bersaing menghadapi bus kota, truk, angkot dan kendaraan lain yang supirnya lebih gila dari pada Super Sic Simoncelli sekalipun. Jika anda tidak percaya datang dan rasakan sendiri sensasi berkendara di Jakarta. Jadi apa masih ada yang keberatan dengan pengakuan saya?

Iklan

One response to “Mirip Pedrosa (Another Part of Me)

  1. Ping-balik: My Bad : Ngak Sabaran / Temperamen | Lord Ubay's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s