Mencetak Ustad (Ustad Modern II)

Hm… no komen ah.

Di zaman modern ini hampir semua hal bisa diciptakan, contohnya gelar pendidikan. Sudah menjadi rahasia publik ada pihak-pihak tertentu yang menjualbelikan ijazah, istilahnya STIA sekolah tidak ijazah ada. Itu sebabnya jangan heran jika melihat orang yang katanya berpendidikan tapi kok oon. Bahkan beberapa waktu lalu sempat ramai tentang anggota dewan yang beli ijazah sebab salah satu syarat menjadi anggota dewan harus S1, jadi jika melihat anggota dewan oon ya itu salah satu indikasinya.

Hal ini cukup memprihatinkan namun ada yang lebih memprihatinkan lagi yaitu sekarang profesi ustad pun bisa diciptakan atau saya menyebutnya mencetak ustad. Tidak percaya? Lihat saja televisi. Di situ tidak jarang menampilkan ustad-ustad muda yang tidak diketahui track record-nya apakah benar seorang ustad yang memiliki latar belakan pendidikan agama yang cukup ataukah hanya seorang ustad karbitan dengan modal pencitraan dari stasiun televisi yang mengorbitkan si ustad.

Saya sendiri bukan orang yang ahli tentang perkara ustad-ustadan tapi setahu saya ustad adalah gelar yang diberikan kepada mereka yang memiliki ilmu keagamaan yang lebih dari sekedar cukup. Selain itu mereka juga dijadikan rujukan oleh masyarakat dalam urusan keagamaan karena ilmunya itu. Nah yang jadi perhatian saya adalah ustad-ustad yang tampil di tv itu ustad beneran atau ustad karbitan? Sebab tampilannya kok jauh dari kesan keagamaan yang rendah diri dan sebagainya.

Sah-sah saja jika seorang ustad melucu tapi jika kajiannya lebih banyak melucu patut kita curigai ini ustad apa pelawak? Saya tidak mau tunjuk dan sebut nama siapa saja ustad-ustad yang meragukan kredibilitasnya tapi sebagai perbandingan coba kita lihat sinetron islam KTP, masih ingat? Di film itu ada seorang preman insaf yang saya lupa namanya tapi setelah insaf disegani oleh masyarakat dan dianggap seperti ustad bahkan namanya saja diganti jadi ki solawat. Padahal si preman insaf ini bukan ustad sebab ilmu keagamaannya memang sedikit tahunya cuma solawat, ditanya apa jawabnya solawat.

Cukup dengan kerudung seorang Syahrini pun bisa menjadi ustadzah, Alhamdulillah yah:mrgreen:.

Jika mau sepertinya bisa saja saya menjadi seorang ustad (ustad karbitan tentu saja) dengan modal baju koko, kopiah dan internet untuk searching materi. Selain itu tentu saja hubungan yang baik dengan pihak media yang akan mensuport saya dalam pencitraan. Nantinya selain muncul di acara kajian rutin yang materinya sudah disiapkan dan diatur sedemikian rupa seperti sinetron, saya juga akan muncul di acara infotainment untuk menampilkan sisi lain kehidupan saya yang glamour dan mewah. Wah ustad Ubay masih muda, ganteng hartanya banyak lagi, saya mau deh dipoligami jadi istri kesekian. Ha ha ha hanya khayalan nakal saya saja.

3 responses to “Mencetak Ustad (Ustad Modern II)

  1. ya itulah demokrasi masbrošŸ˜€
    semua bisa dibikin dengan kebebasan bersuara dan berkaryašŸ˜€

  2. hahahha..memang begitulah sekarang…. banyak orang2 yg sok suci berkeliaran…. padahal kenyataan ny dya lebih parah dari pada qt2…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s