Mati

Jam Sembilan malam lebih sedikit saat aku turun dari bis dan melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan. Meskipun belum cukup larut tapi jalan yang kulalui begitu sepi dan gelap karena minimnya penerangan. Sebenarnya bisa saja aku naik ojek tapi kupikir berjalan tidak ada salahnya, hitung-hitung olah raga.

Diperjalanan terlihat dua orang berjalan ke arahku, awalnya ku kira cuma pejalan kaki biasa, ternyata dugaanku salah. Dua orang tersebut ternyata bermaksud menodongku. Tentu saja aku sedikit takut tapi aku justru melawannya. Satu lawan dua bukanlah sesuatu yang mudah tapi dengan modal kemampuan bela diri yang ku punya, siapa takut? Tak perlu waktu lama bagiku untuk mengalahkan dua preman kacrut yang berusaha menodongku karena mereka bukan lawan yang sepadan untukku.

Hal konyol terjadi saat keduanya merasa terpojok, mereka berteriak meminta tolong. Preman minta tolong, sungguh suatu hal yang menjijikan. Tampak beberapa orang datang karena teriakan mereka, aku langsung berusaha menenangkan dan menjelaskan bahwa mereka yang jahat bukan aku. Bodoh sekali aku waktu itu, seharusnya aku sadar yang datang itu bukan masyarakat tapi komplotan preman yang berteriak mintga tolong setelah ku hajar.

Keadaan semakin memburuk untukku karena yang kuhadapi bukan lagi dua tapi empat orang bahkan lebih. Bodohnya lagi aku masih belum menyadari bahwa mereka itu komplotan, aku masih saja berusaha menangkis dan menghindari serangan mereka tanpa berusaha membalas. Sesorang berhasil menyerangku dari belakang, rasanya sakit sekali dan agak panas. Keadaan menjadi semakin gelap, dan aku tak tahu apa yang terjadi kemudian.

Aku terbangun disebuah ruangan terang berwarna putih dengan kepala masih terasa pusing. Apakah ini rumah sakit? Ternyata bukan, ku pandangi ruangan tersebut sambil mengingat kejadian terakhir yang kuingat. Sepertinya cuma mimpi, aku tak lagi memikirkan mimpi aneh tersebut dan fokus pada di mana aku berada. Seseorang dengan pakaian putih datang dan berkata “ikut aku”. Hey, apa-apaan orang ini, kenal saja tidak kok main suruh ikut. Maaf, aku harus pulang, ku tolak orang itu secara halus tapi jawaban yang kudapat benar-benar mengejutkanku. Pulang ke mana? Kamu tidak bisa kembali ke dunia, waktumu sudah habis.

Sial, apakah artinya aku sudah mati? Jadi perkelahian itu bukan mimpi, jadi aku mati dikeroyok preman? Sial, preman keparat, sampah seperti mereka seharusnya mati sebab mereka lebih pantas mati dari pada aku. Aku benar-benar marah dan tak bisa menerima kenyataan bahwa aku mati dikeroyok preman. Tidak, aku harus pulang dan menghajar para preman itu, kataku pada orang berbaju putih. Kamu tidak bisa pulang karena duniamu telah berbeda, mari ikutlah denganku. Argh, jawaban itu sama sekali tidak bisa menenangkanku.

Cukup lama aku terdiam memikirkan apa yang telah terjadi dan yang akan kulakukan. Sudahlah, tak ada yang bisa kau lakukan untuk merubah takdirmu. Orang itu kembali membujukku untuk ikut dengannya. Oke, aku akan ikut denganmu tapi jawab pertanyaanku. Jika aku sudah mati dan ini adalah dunia yang berbeda dengan duniaku sebelumnya, apakah berarti kamu malaikat? Orang itu hanya diam tak menjawab pertanyaanku. Benar-benar tidak membantu, jadi kuanggap saja diam sebagai iya. Pertanyaan selanjutnya, ke mana kau akan membawaku? Surga atau neraka? Lihat saja nanti, kau akan tahu ke mana aku akan membawamu. Lagi-lagi bukan jawaban yang kunginkan, lantas ke mana ia akan membawaku?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s