Terserah Anda #1

Sudah lama sejak tulisan terakhir saya di blog. Maklum beban kerja, ditambah aktivitas lain dan status sebagai suami cukup menyita waktu fiuw (jadi curcol). Ah sudahlah, kali ini saya akan mengunggah cerita yang saya tulis beberapa waktu lalu. Sedikit berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya karena kali ini saya membuat cerita yang gantung di mana para pembaca perlu berfikir untuk memahami ceritanya. Sebagai catatan, ceritanya bukan copas karena memang buatan sendiri tapi pernah saya posting di kaskus. So, enjoy it.

Cerita 1

Sudah sepuluh tahun lebih aku bekerja di sini, tapi baru kali ini aku mengalami kebosanan yang luar biasa. Alasannya karena lingkungan pekerjaan yang tidak kondusif. Semua teman-temanku adalah orang baru termasuk juga atasanku tapi tak satupun dari mereka yang bersikap ramah padaku. Setiap bertemu mereka tak pernah membalas sapaanku, bahkan senyumpun tidak. Manusia jaman sekarang memang tidak tahu sopan santun, kataku dalam hati. Suatu siang bosku datang keruangan sambil memperkenalkan seorang pegawai baru pada pegawai lain. Aku sama sekali tak tertarik dan hanya mojok sambil merokok di sudut ruangan. Tak lama pegawai baru tersebut bertanya pada wanita berbaju coklat, “mbak, kursi yang itu kosong ya? Sambil menunjuk meja kerjaku. Oh ambil aja kalo mau, udah lama kosong kok, soalnya ngak ada yang berani duduk di situ, jawab wanita berbaju coklat.

Cerita 2

Belum satu bulan aku dan istriku pindah ke kontrakan dekat kantorku, alasannya biar akunya gampang pulang pergi ke kantor. Kata orang sih, rumah baru itu perlu diselametin (ritual baca doa dan makan-makan) tapi akunya males. Ngapain coba pake selametan segala, rumahnya aja ngontrak, kecil pula. Mending duitnya dipake buat beli perabotan, lagian kalo ngaji, saya juga biasa ngaji sehabis maghrib.

Suatu siang aku pulang ke kontrakan, ngantuk dari pada tidur di ruangan malu dilihat teman sekantor mending pulang, dekat ini. Sesampainya dirumah aku langsung berbaring, tak lama ku dengar suara pintu terbuka. Rupanya istriku pulang, mah kok ngak nelpon minta jemput kaya biasa? Tapi ia hanya diam, ah sudahlah mungkin dikiranya aku sedang kerja di kantor dan takut mengganggu makannya ia pulang sendiri ngak minta jemput. Istriku ini memang cantik dan baik, ngak salah pilih istri memang.

Suara telpon membangunkanku, rupanya istriku yang nelpon, kirain orang kantor. Kenapa mah? Tanyaku sambil kriyep-kriyep menahan kantuk. Papa ke mana aja sih dari tadi di bbm ngak bales-bales, mama udah lama nunggu di tempat biasa, buruan jemput mau hujan nih. Oh iya iya, bentar lagi papa berangkat.

Cerita 3

Senin jam lima sore, masih satu jam lagi sebelum maghrib dan jadual rutin latihan karate. Dari pada bengong tidur dulu ah di ruang arsip, meskipun ruangannya agak sumpek tapi biarlah. Waktu tak terasa hingga temanku membangunkan “udah maghrib jangan tidur mulu, ayo solat”. Aku bergegas bangun dan naik ke lantai empat untuk solat berjamaah dilanjutkan latihan di lantai lima. Usai latihan aku langsung turun ke lantai tiga, tampak beberapa pegawai belum pulang, paling ngejar deadline maklumlah bidang PK. Huft, capek sekali rasanya, istirahat dulu ah sebentar. Waktu tak terasa hingga temanku membangunkan “udah maghrib jangan tidur mulu, ayo solat”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s