Terserah Anda #2

Cerita 4

Budi Dirgantoro, salah satu teman kerjaku, secara kasat mata tidak ada yang aneh dengannya. Meskipun tidak macho tapi juga tidak kemayu, laki-laki normal seperti yang lain. Tapi ada yang tidak diketahui oleh orang-orang, si budi ini ternyata penggemar warna pink. Jika kamu main ke rumahnya kamu bisa lihat kamarnya yang bernuansa pink. Bukan hanya cat tapi juga seprei dan sarung guling dan bantal semuanya pink. Suatu malam Budi terbangun karena suara geledek, setelah pipis dan minum Budi melanjutkan tidur sambil memeluk erat gulin berwarna putih. Dingin cuy.

Cerita 5

Aku tinggal di sebuah rumah yang besar, meskipun begitu hanya ada empat orang yang tinggal yaitu aku, dua anak ku dan iyem pembantu rumah tangga. Anakku bilang, rumah ini berhantu. Sebab katanya lagi, dia sering mengalami hal-hal aneh seperti suara-suara atau benda yang pindah sendiri terutama di siang hari. Aku yang mendengarnya hanya tertawa. Setan? Apa iya, di siang hari pula. Hm mungkin itu cuma cara untuk mendapatkan perhatian, maklum bapaknya pergi entah kemana. Sudah lebih dari tiga kali puasa, tiga kali lebaran tak ada kabar, dasar bang Toyip.

Tapi harus ku akui ada kalanya aku merasa takut saat sendiri. Dan pada saat tertentu terutama pagi dini hari dan petang, rumah ini terasa panas dan menyesakkan. Jika itu terjadi yang kulakukan adalah sembunyi. Pembantuku bilang rumahku ini diguna-guna, ia menyarankan untuk pindah ke tempat lain tapi aku menolak karena rumah ini adalah hartaku dan aku tak akan meninggalkannya karena alasan irasional seperti itu.

Cukup lama aku bertahan dengan situasi ini, hingga suatu ketika tepatnya malam Jum’at. Setiap malam Jum’at rumahku terasa lebih panas dari pada malam lain tapi malam itu benar-benar berbeda. Malam itu terasa lebih panas dan sangat ramai oleh suara-suara asing yang memekakkan telinga. Aku tidak sanggup, akhirnya malam itu aku dan anak-anakku dibantu iyem pergi meninggalkan rumah. Kini kami tinggal ditempat yang baru, tempatnya benar-benar nyaman tak seperti rumahku yang lama.

Cerita 6

Tolong, tolong terdengar suara dari luar rumah. Rupanya Deni adik ku berteriak sambil berlari. Tampak dua ekor anjing mengejarnya, sontak ku ambil kayu untuk mengusirnya. Makanya jangan main mulu, bantuin sini beresin barang-barang. Yup, kami sekeluarga baru saja pindah rumah dan Deni adik ku bukannya bantuin beres-beres malah ngeluyur entah ke mana, sekarang baru tahu rasa dia.

Sudah sekitar seminggu aku tinggal di sini dan aku selalu membawa kayu saat ke luar rumah. Yang menjadi alasannya adalah dua anjing galak yang ada di sekitar rumah. Entah dari mana anjing tersebut tapi mereka benar-benar galak atau mungkin lebih tepatnya gila. Suatu hari kulihat Deni bersama salah satu anjing tersebut. Aku hampir saja memukul anjing galak itu dengan kayu sebelum Deni bilang “jangan kak, kasihan”. Wew, sejak kapan anak ini belajar sopan santun memanggilku “kak” dan punya rasa kasihan pada anjing galak itu. Tapi siapa peduli, baguslah kalau begitu.

Saat sedang asik nonton Deni mengajakku jalan-jalan bareng Riki. Riki nama yang diberikan Deni untuk anjing itu. Macam betul anak ini ngasih nama Riki untuk seekor anjing. Meskipun malas tapi bosan juga di rumah nonton tv, ya sudah yuk lah jalan sore. Kami berjalan ke taman atau lebih tepatnya kebun hingga Deni dan Riki berhenti di depan tempat mirip gua. Ngapain ke sini? Tanyaku pada Deni. Ngak papa kak masuk aja. Akupun masuk menikuti Deni dan Riki, setelah di dalam rasanya tidak enak, gelap, sumpek dan ada bau aneh yang membuatku pusing. Aku benar-benar pusing dan tak sadarkan diri. Saat bangun aku sudah berada di luar gua tersebut sendirian, sialan ni anak ninggalin, kangen pengen dipukul kali ya.Aku bergegas pulang sambil berlari, lari lebih cepat dari pada biasanya.

Dari halaman ku lihat Deni sedang bermain di dalam rumah sambil bermain dengan seseorang. Aku bisa mendengarnya memanggil orang itu, Riki. Apa? Riki? Aku marah, kaget sekaligus heran dengan apa yang kulihat. Aku langsung lari menerjang Deni ketika tiba-tiba kurasakan pukulan yang amat keras di kepalaku. Pukulan di kepala benar-benar membuatku pusing, dalam keadaan pusing ku lihat kayu itu mengarah ke tubuhku. Kayu itu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s