Tendensi Najwa Di Mata Najwa

Mata Najwa, salah satu acara Metro tv tersebut oleh sebagian orang dinilai sebagai acara yang bagus. Sebab selain materi dan bintang tamu yang dihadirkan cukup berbobot juga karena acara tersebut dipandu oleh Najwa Shihab wanita yang cukup pintar dan cantik. Ingat ya, saya bilang cukup pintar dan cantik.

Menurut saya Najwa memang cukup pintar tapi bukan berarti pintar luar biasa sebab masih banyak yang lebih pintar dari pada Najwa, contohnya? Banyak, pilih saja salah satu selain pak Habibie atau pak Harto masih ada Akbar Tandjung. Saya ngak nyebut Prabowo karena khawatir dikira pendukungnya😀.

Selanjutnya cantik, cantik itu relatif tapi menurut saya Najwa kelihatan cantik karena cukup pintar, seandainya dia bodoh ya biasa saja (saya ngak bilang jelek lho ya). Dan menurut saya jika dibandingkan istri saya, kecantikan Najwa masih kalah. Saya bilang begini bukan karena saya suami dari istri saya tapi memang sebagai lelaki saya nilai istri saya lebih cantik dari pada Najwa Shihab. Dan sebagai seorang muslim Najwa kalah cantik, istri saya berhijab coy sedangkan Najwa enggak.

Oke cukup ngelanturnya balik lagi ke topik yaitu tendensi seorang Najwa dalam membawa acara Mata Najwa. Beberapa waktu yang lalu saya membaca status fb seorang teman tentang Mata Najwa yang saat itu membahas capres Jokowi dan Prabowo. Tanpa menonton saya tahu pasti kecenderungan acara tersebut ke mana sebab kita tahu Surya Paloh pemilik Metro tv berkoalisi mendukung Jokowi.

Sebenarnya sudah lama saya merasa ketidakprofesionalan Najwa dalam membawa acara tersebut. Meskipun kelihatan bagus tapi saya tahu pasti di dalam acara tersebut ada penggiringan dan pembentukan opini. Dan yang paling gampang untuk diingat adalah ketika Mata Najwa menghadirkan Farhat Abas dan Rhoma Irama sebagai bintang tamu. Saat itu terlihat jelas sekali bagaimana kecenderungan Najwa dalam menjatuhkan tamunya. Perlu dipahami bahwa saya bukan penggemar Farhat Abas dan Rhoma Irama. Meskipun saya cukup menikmati tontonan tersebut yang menurut saya seperti opera sabun tapi saya juga merasa miris.

Katanya Najwa Shihab orang pintar tapi kok dalam membawakan acara terlihat sekali kecenderungannya untuk menjatuhkan sang tamu. Dimana etika jurnalismenya? Seharusnya dia bersikap professional, meskipun dia sangat membenci sang tamu tapi tidak sepantasnya dia memperlakukan tamu undangannya seperti itu. Sebab acara tersebut ditayangkan secara umum. Apakah ia sengaja ingin menunjukkan dirinya pintar dengan cara menjatuhkan tamunya. Karena itu saya fikir sah-sah saja jika Farhat Abas marah dengan kelakuan Najwa yang diluar etika.

Tapi ya sudahlah, toh apapun yang dilakukan manusia pasti akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Saya pun sadar apa yang saya lakukan saat ini belum tentu baik meskipun tujuannya benar. Saya paham sepenuhnya sebagai manusia, kesalahan merupakan suatu keniscayaan. Itu sebabnya saya menggunakan tag line “anda yang menilai” sebab benar menurut saya belum tentu benar menurut anda. Maka jadilah orang yang tidak hanya cerdas tapi juga bijak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s