Saya Pancasila?

Hastag “saya pancasila” terlihat berseliweran di dunia maya, ada juga gambar profil seseorang yang terbagi dua, sebelah kiri tulisan saya pancasila dan di sebelah kanannya foto profil si pemilik akun. Frasa atau konsep “saya pancasila” bisa dibilang sebuah langkah atas peringatan hari pancasila tanggal 1 Juni kemarin, yang dalam rangka peringatan hari tersebut muncul iklan layanan masyarkat yang di akhir iklan tersebut menampilkan pak presiden Jokowi menyatakan saya pancasila. Sah-sah saja dan silahkan saja sih jika kemudian hastag “saya pancasila” menjadi tren, namun bagi saya hal tersebut terasa aneh. Aneh karena :

1. Pancasila itu ideologi negara yang dijadikan sebagai dasar pemerintahan dan landasan hukum di Indonesia. Jadi aneh jika kemudian ada ungkapan “saya pancasila” sebab artinya orang tersebut mengaku sebagai dasar atau falsafah negara, kan ngawur. Untung ngak kebablasan ngaku “saya tuhan” seperti firaun he he he. Seharusnya bukan “saya pancasila” tapi “saya pancasilais” yang artinya saya sebagai pengikut paham / idiologi pancasila.

2. Pengakuan “saya pancasila” adalah pengakuan personal / individu secara sepihak. Apakah orang yang mengaku sebagai pancasila bena-benar pancasilais, sudah mengamalkan pancasila sebagai jalan hidup atau jangan-jangan cuma sebatas jargon? Pengakuan tersebut belum terbukti dan justru malah mengesankan cuma dirinya yang pancasila, sementara orang lain tidak. Inikan berbahaya, berpotensi memecah belah yang justru tidak sesuai dengan sila persatuan Indonesia. Akan lebih bijak jika jargonnya diganti menjadi “kita adalah pancasilais”

Bicara pengakuan, saya jadi ingat salah satu kajian. Saat itu ustad menyampaikan surat al Isra yang didalamnya Allah menyatakan / mengakui nabi Muhammad sebagai hamba, beda dengan kita (ustad dan jamaah) yang mengaku hamba Allah padahal belum tentu Allah mengakui kita sebagai hamba. Kita sering kali mengaku sebagai hamba Allah tapi kadang bahkan sering kita melanggar perintah Allah secara sadar ataupun tidak, sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

Intinya adalah silahkan saja mengaku sebagai pancasilais tapi lebih penting untuk paham dan menjalankan nilai-nilai pancasila. Saya khawatir pengakuan sepihak sebagai pancasilais hanya untuk menutupi kesalahan atau bahkan menyerang pihak lain yang berbeda pendapat atau sikap. Konon katanya D.N. Aidit si bapak PKI mengaku sebagai pembela pancasila. Nah loh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s