Warisan

Dalam Islam, warisan adalah peninggalan dari seseorang yang meninggal dunia kepada ahli waris yang masih hidup. Apabila pemberian diberikan oleh orang yang masih hidup namanya bukan warisan tapi hadiah atau hibah. Jadi syarat sesuatu disebut sebagai warisan adalah adanya pihak yang meninggal, catat biar ngak lupa.

Bicara soal warisan ternyata tidak hanya soal harta, karena yang ada di benak banyak orang saat bicara warisan adalah harta. Ternyata selain harta, hutang pun bisa diwarisi. Nah lo, repot kan. Yup, ternyata bila seseorang yang meninggal memiliki harta dan hutang maka hartanya harus digunakan untuk membayar hutang dan membiayai pemakamannya. Bila masih ada kelebihan harta maka sisa hartanya itu diwarisi oleh ahli waris, tapi bila ternyata hutangnya melebihi hartanya maka hutangnya diwarisi oleh si ahli waris. Itu yang saya dapat dari kajian rutin tentang fiqh, ngak percaya? Silahkan ngaji.

Masih bicara soal warisan, tempo hari ada orang yang menulis tentang warisan, salah satunya menyebut tentang agama warisan. Mungkin tujuan tulisannya baik tapi isinya, penyampaiannya salah karena menyebut agama sebagai warisan. Sebab agama atau iman bukanlah warisan. Ingat kalimat akhir paragraf pertama, yaitu syarat waris adalah adanya pihak yang meninggal. Selain itu juga agama / iman bukanlah objek waris. Jika iman adalah warisan lantas nabi Adam dapat warisan iman dari siapa? Siapa pula yang mewarisi iman kepada nabi Ibrahim atau nabi Muhammad? Dan kenapa Kan’an tidak mewarisi Islam sebagai agama padahal dia adalah anak nabi Nuh?

Di dalam Qur’an ada kisah orang-orang soleh yang berwasiat pada keturunannya untuk beriman kepada Allah seperti Lukman kepada anak-anaknya (31;13) atau pesan nabi Yaqub kepada anak-anaknya untuk menyembah Allah (2;133), tapi itu adalah wasiat atau pesan. Sebab tidak ada paksaan dalam beragama (2;256), ente mau berislam menyembah Allah silahkan, tidak berislam pun monggo risiko tanggung sendiri.

Saya memaklumi kesalahan penulis agama warisan karena dia adalah manusia yang masih terbatas keilmuannya. Jangankan penulis agama warisan yang masih pelajar, ada dosen tapi pemikirannya menyimpang. Ini dosen lho, gurunya mahasiswa, bahkan dosen di universitas terkemuka negeri ini. Sekali lagi saya pribadi memaklumi kesalahan yang dilakukan penulis terkait agama warisan namun menyayangkan sikap orang-orang terutama media yang  rajin menggoreng dan menjadikan tulisan tersebut sebagai referensi atau pembenaran, sebab sesuatu yang salah tidak bisa dijadikan pembenaran. Semoga kita semua diberikan hidayah agar tetap istikomah di jalan kebenaran. Aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s